Terima Kasih Waktu

waktu-berdentang
"Terima kasih waktu, sekali lagi kau t'lah berhasil memadamkan amarahku." - Malam itu pukul 18.30 papabear baru sampai di rumah, setelah sehari sebelumnya ia kurang tidur. Pagi di rumah sakit, malam baru pulang dan masih lanjut begadang hingga subuh tiba. Sesaat setelah beberes mandi, salat lalu makan malam, ia masih menyempatkan waktunya bermain sejenak dengan si kecil, walau pada akhirnya ia pun tertidur pulas di ruang keluarga.

Aku kembali membersamai babybear, meski kusambi dengan menonton tayangan favorit Air Crash Investigation hehe, setidaknya meski ia merengek tapi paham ini tontonan favoritnya ibuk.

Kelar menonton, jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.15, waktunya bersiap tidur. Sebelum beranjak tidur, aku mencuci piring dan membereskan makanan terlebih dulu. Kemudian mengambil botol susu, menyiapkan susu malam babybear ... di sini lah kesabaranku kembali diuji.

"Ibuk gak ucah macak, sama Cup aja." Dikiranya aku di dapur mau memasak, sejak di dapur ini lah babybear mulai merengek memintaku membersamainya saja.

Dapur selesai, lanjut menyiapkan susu tadi. Satu dua tiga botol disiapkan, aku berujar padanya "Menyiapkan susu ini tugasnya Ibuk, Yusuf ke sana aja dulu sambil nunggu susu siap tidur-tiduran sama Bapak dulu ya." tapi tidak ia dengarkan, malah berkomentar "Ibuk mingging, Cup aja yang bikin is-isnya." [is-is,red: susu]

Sementara itu ... aku mulai lelah.
"Enak benar suamiku sudah tidur-tiduran sedang aku dari pagi sendirian menemani tingkah aktif Yusuf.''

Saat itu lah isi kepalaku mulai dipenuhi sedikit kecemberuan, melihat suami pulang dari kerja kok malah tidur lebih dulu ... sedang aku? Hufff .....

Lalu kuteringat salat Isya belum kutunaikan, oke baiklah daripada aku marah-marah baiknya salat saja dulu. Permintaan babybear untuk membuat susunya sendiri kuamini, ia lalu duduk di atas meja makan sambil mulai "meracik" susu.

Air wudhu kuambil, lanjut menunaikan salat dan pintu kamar kututup. Eh lagi-lagi, ketika mengambil wudhu pun babybear bergegas turun dari kursi makan dan mengikutiku ke kamar mandi. Celana ia singsingkan hingga ke atas lututnya supaya tidak basah terkena cipratan air, kemudian menyalakan kran air membasahi wajah berikut kakinya "Cup sudah wudhu." tanda bahwa ia telah selelasi berwudhu "Masya Allah anakku." bathinku mengucap seolah hendak berusaha meredam emosi amarahku.

Kelar salat Isya aku tak langsung kembali ke ruang makan, karena kutahu di sana babybear sedang asyik dengan botol-botol susunya. Di sisi lain dengkuran papabear mulai terdengar lantang, tanda ia sudah amat sangat lelap dalam tidurnya. Akupun ikut "tidur" di kamar tidur, membungkus tubuhku dengan selimut meski mataku menanar kosong menyimak "Yusuf anakku sayang, Ibuk enggak mau emosi amarah karena lelah ini berhasil merenggut tawa ceriamu."

Lamunanku pun dihenyakkan dengan pekikan kecil papabear "Ya Allah Yusuf, susunya!" tak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana, aku kembali asyik sendiri dengan lamunanku.

Tak lama papabear masuk ke kamar "Yang, susunya Yusuf loh tumpah berantakan." ia pun tidak lantas ikut membatu membereskan kekacauan tsb, malah merebahkan badannya ke kasur di kamar. Sungguh aku akui, suamiku teramat lelah dengan tugas-tugasnya. Tak payah kucemburui, karena itu demi masa depan kami bertiga.

Kuangkat badanku dari kasur tidur, lalu melihat bagaimana keadaan meja makan setelah kuamini permintaan Yusuf tadi. "Cup mau bikin is-is sendiwi." 

Apa yang mau diharapkan dari anak berusia 2 tahun 6 bulan, botol susu rapi tersedia di meja makna lengkap dengan termosnya? Hehehe, tapi malam itu aku justru tersenyum bahagia melihat kekacauan yang barusan dibuatnya. Dengan hati gembira aku membereskan susu yang tercecer di meja dan lantai. Lengkap dengan laporan babybear "Cup bikin is-is sendiwi campe tumpah Ibuk." dengan bangganya ia memberi tahuku perihal tsb. Namun kubahagia, senyuman kecil kuberikan untuknya bukan amarah.

***
Terima kasih, anakku ... kau telah mengajarkanku bagaimana melawan emosi dan amarahku.
Semua untuk kita, karena kuingin kepala dingin senyum merekah hadir selalu dalam keluarga ini.

Terima kasih waktu,
ditambah sedikit lamunan dalam "tidurku"
engkau berhasil memadamkan amarahku.

Waktu, oh waktu ... terima kasih ♡

Comments