Cerita Kehamilanku di Trimester Kedua

11:22 PM

Dear Lovembre ... ketemu lagi di cerita kehamilanku di trimester kedua. Banyak yang bilang, memasuki trimester kedua adalah masa-masa indahnya sebuah kehamilan. Karena biasanya semua sudah berjalan dengan tenang tanpa adanya gangguan mual bagi sebagian ibu hamil, kalau kalian sendiri bagaimana? Apa kabarnya si mual? Berikut cerita kehamilanku dari minggu ke minggu, selamat menyimak yah ^^

babybump-23weeks

13 weeks

Kontrol selanjutnya, tensi masih seperti biasa. Setidaknya tidak menyentuh angka 140 ya. Di minggu ke-13 ini ukuran babybear makin berkembang, mencapai 7,04 cm (CRL, Crown Rump Length) alhamdulillah. Obat pengencer darah (thromboasphilet) masih tetap dikonsumsi hingga persalinan nanti. Mengingat riwayat tekanan darah tinggiku lebih dikarenakan faktor genetik, semoga aman sehat selalu ya ... aamiin.

15 weeks

Usai mengikuti talk show kehamilan di RSIA Husada Bunda, para peserta diperkenankan untuk melakukan cek doppler. Namun detak jantung janin (DJJ) siang itu tidak terdengar. Galau? Iya ... padahal perawatnya sudah menginformasikan kalau melalui alat doppler ini detak jantung janin biasa terdengar di kehamilan 4 bulan ke atas.

Tidak tega melihat istrinya menggalau, suami pun bergegas mengajakku kontrol ke dokter. Cek USG, alhamdulillah adek baby aktif, ia bahkan memberi kode dengan mengacungkan jempol tangannya. Seolah ingin berkata "Ibuk, aku baik-baik saja di sini." Selain itu, jenis kelamin sudah bisa diketahui :) (sehat terus ya nak).

Lalu, "Kenapa aku masih sering merasakan nyeri atau mungkin sedikit kontraksi pada perut bagian bawah ya?" tanyaku. Jika melihat hasil USG, dokter menyatakan kondisiku baik-baik saja. Sehingga disarankan untuk tidak berada pada posisi stagnan yang lama, setidaknya setengah jam itu cukup. Misal, saat posisi duduk ... disarankan setengah jam kemudian relaksasi dengan berdiri sejenak. Begitu pula sebaliknya, jadi sepertinya suami yang happy nih. Agenda shopping agak berkurang sedikit hehe.

16 weeks

Ada cerita lucu seputar posisi stagnan ini, aku yang agak sedikit bandel. Lupa diri kalau tidak boleh berlama-lama duduk, seharian keasyikkan merajut. Malam harinya (maaf) bokongku terasa nyeri sekali, seperti habis disuntik. Bertanya ke adik dan kakak ipar, mereka pun mengalami hal serupa saat kehamilan makin membesar. Gimana ya supaya nyeri tidak berlangsung lama? Bertanya ke asisten dokter, beliau menyarankan untuk mengompres dengan air panas. Dan berhasil! Alhamdulillah, semalaman saya kompres, keesokan harinya sudah reda :)

17 weeks

Sore itu tumben banget aku merasakan sesak napas lebih dari setengah jam, agak parno. Suami berusaha menenangkan, padahal ia sendiri sedang dalam keadaan agak pusing karena kecapekan. Maklum, jadwal sekolahnya padat banget. Sempat konsultasi via what's app dengan asisten dokter kandungan, jikalau dirasa mengkhawatirkan bisa cek segera. Dan keesokan harinya sudah normal kembali alhamdulillah, nanti saja kontrolnya pikirku.

18 weeks

Hari itu, Minggu 26 Februari kemarin aku lagi ingin berkreasi ala-ala di dapur. Walaupun pada akhirnya kue bikinanku gagal, hiks. Menyibukkan diri di dapur hampir 4 jam berdiri terus, setelahnya perut mengencang, bahkan nyeri terasa di perut bagian bawah. Saran dokter supaya tidak berlama-lama di posisi stagnan kembali kuabaikan.

Kubuat istirahat, dan mengompresnya dengan air panas ... berharap nyeri mereda. Karena biasanya setengah jam tiduran nyeri sudah mereda. Tapi kemarin, tidak. Hingga akhirnya malam hari sebelum tidur, aku mengonsumsi obat pereda kontraksi yang telah diresepkan sebelumnya. Proterine 20mg, dengan dosis setangah tablet saja. Mulai kuatir? Iya, dan akhirnya keesokan hari aku cek ke dokter.

Alhamdulillah babybear baik-baik saja, perkembangannya bagus dengan panjang 11 cm dengan berat 230gr. Aku hanya terlalu letih, dan itu artinya tenagaku hanya sampai segitu saja ... tidak bisa dipaksakan.

Kemudian, beberapa pertanyaan kuutarakan saat kontrol kemarin. Di antaranya:
"Kontraksi seperti apakah yang patut diwaspadai ya, Dok?"
Jawabnya...
  1. Jika seluruh bagian perut terasa mulas.
  2. Permukaan perut mengeras, seperti punggung tangan yang dikepal.
Dua gejala tsb yang patut diwaspadai, oke catat! Dan pertanyaan selanjutnya...
"Apakah sesak kemarin karena tekanan darah tinggi ini ya, Dok?"
Dokter menjawab, bukan. Meskipun cenderung tinggi, tapi kondisi tekananku stabil. Merujuk ke riwayat kesehatanku yang pernah menderita TBC, kemungkinan besar karena hal tsb. Dokter pun menyarankan olahraga renang untuk melatih kembang kempis volume paru, guna persiapan persalinan nanti. Karena olahraga jalan kaki dan senam ringan dirasa kurang membantu mengurangi sesak tsb.

Dan emang loh, renang ini sepertinya olahraga yang paling pas untuk ibu hamil. Kenapa? Karena indeks massa tubuh manusia lebih ringan di air daripada di darat. Jadi mau berenang satu hingga satu setengah jam pun, aku tidak merasakan lelah. Sehingga efektif untuk ibu hamil yang ke mana-mana kan lumayan melelahkan dengan proporsi berat badan demikian hihi.

Tapi sayangnya, dikarenakan lokasi sport club lumayan jauh dan waktunya yang tidak cocok dengan jadwal olahraga suami. Baru sekali mencoba renang, eh aku kembali beralih ke olahraga prenatal yoga (alasan saja sepertinya hehe).

20 weeks

Akhirnya aku dan suami bisa menyempatkan waktu untuk pulang ke Surabaya, walaupun hanya semalam. Menyenangkan, sekaligus melelahkan. Iya, karena perjalanan menggunakan kereta api memakan waktu kurang lebih 2,5jam. Dan entah kenapa sewaktu balik ke Malang, sempat agak sensitif ... aku menangis. Rasa kangen dengan Surabaya masih belum terpuaskan, sepertinya. Atau bawaan ibu hamil yah hihi.

Asyiknya, lelah setelah pulang kampung terbayarkan dengan Me Time di salon & spa, aku meluangkan waktu melakukan creambath plus back massage. Ahhh leganya :)

Ssst, treatment di salon menjawab beberapa keraguanku. Kalau ibu hamil boleh melakukan treatment di salon, bahkan spa juga. Asalkan ditangani oleh terapis yang khusus ibu hamil yah, dan tetap konsultasikan lebih dulu dengan dokter kandungan kalian.

22 weeks

Jadwal kuliah suami yang padat, mulai subuh sampai malam hampir 1 minggu penuh membuat kondisi tubuhnya drop. Flu dan batuk menyerang, aku yang sempat bertahan selama seminggu akhirnya tumbang juga. Agak malas konsultasi ke dokter kandungan (jangan ditiru ya), aku langsung mengonsumsi obat pereda demam, plus antibiotik ... dibawah resep dokter umum sih. Tapi tetap saja, feeling guilty ketika meminumnya. Sambil berbisik ke babybear "Adek, maafkan ibuk ya...kali ini ibuk minum obat dulu."

5 hari mengonsumsi obat tsb, dilanjut babymoon tipis-tipis membuat badanku belum me-recharge sempurna. Antibiotik kutegak lagi, hiks...

selamat menyimak video babymoon kemarin^^

24 weeks

Hingga akhirnya jadwal kontrol bulanan tiba, alhamdulillah babybear sehat dan aktif. Dengan panjang mencapai 15cm dan berat 831gr. Lalu kucurahkan uneg-unegku, "Dok, maaf aku kemarin sudah minum antibiotik duluan." fyi, dosisnya tentu yang aman untuk ibu hamil.

Lalu dokter kandunganku menyarankan untuk stop saja, dan diganti dengan obat batuk sirup. Dengan catatan nih, kalau selama seminggu masih batuk dan demam juga aku harus kembali kontrol.

Alhamdulillah setelah seminggu mengonsumsi Silex sirup untuk ibu hamil, plus Demacolin untuk pereda demam kondisi tubuhku berangsur membaik. Setelahnya aku benar-benar menjaga banget, kalau suami mulai bersin dan batuk langsung saja masker penutup hidung kukenakan.

Usut punya usut, ternyata sebelumnya aku sempat membatin demikian ...
"Eh, hamil ini aku bebas dari flu. Yang lainnya kok sering banget kena flu ya."

Selang beberapa waktu kemudian, demam dan batuk melanda di trimester kedua akhir. Astaghfirullah, jangan lagi deh takabur seperti itu. Semoga semuanya sehat selalu, aamiin.

Selain cerita-cerita di atas, memasuki trimester kedua ini tendangan babybear makin terasa. Kadang ia menjadi temanku sehari-hari di rumah "Adek, sekarang kita makan yuk." ucapku sebelum memulai makan (it's amazing moment).

Dan masih ketambahan kebiasaan lawasku, "ngerokoti" es batu hahaha. Ternyata dokter kandunganku pun memiliki kebiasaan yang sama LOL.

Oh iya, untuk suplemen selama kehamilan di trimester kedua ini, aku mengonsumsi beberapa jenis suplemen. Di antaranya:
  1. Prolacta with DHA for mother, sebagai penunjang perkembangan otak bayi. Sebenarnya DHA ini juga terdapat di susu ibu hamil, tapi dikarenakan aku intoleransi terhadap laktosa. Di mana kalau minum susu hamil, bakalan diare. Lagipula ibu hamil bukan berarti harus minum susu hamil kan?!
  2. Vitamam, mengandung asam folat dan beberapa vitamin yang dibutuhkan oleh ibu hamil.
  3. Osteo Gard by Nutrimax, kandungan kalsium, Vitamin D, zinc, magnesium serta boron. Alhamdulillah aku tidak merasakan nyeri boyok (tulang punggung) yang biasanya menjadi momok bagi beberapa ibu hamil. Apalagi menurut dokter kandunganku, banyak pasiennya yang cocok mengonsumsi suplemen kalsium tsb.
Semua suplemen tsb aku minum dengan dosis 1x sehari.

***
Nah, itu dia cerita kehamilanku di trimester kedua kemarin, cukup berwarna yah. Mulai dari cerita pulang kampung yang cukup melelahkan, mencoba beberapa olahraga yang pas untukku, nyeri perut bagian bawah karena bandel, sampai terserang flu dan batuk.

So, just listen to your body. Aku pun semakin exciting menjalani kehamilan di trimester ketiga ini, sampai jumpa di cerita selanjutnya ya ... happy pregnancy!


with luv ♡
*PS:
CRL, Crown Rump Length: ukuran jarak dari puncak kepala hingga ''ekor'' bayi.

You Might Also Like

17 comments

  1. Wah lengkapnya.. aku sudah lupa semua mbak, dan kebetulan pas periksa nggak dicatat di buku KIA lagi.. hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya mbak Rani, kebetulan aku catet semua di notes. Priceless moment ^^

      Delete
  2. ihhh, keren mba Niing
    lengkap bangeettt :)
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  3. Mb ning punya blog atu lg toh
    Mb aku jg diresepin thrombo aspilet ni
    Oya aku sebenernya masi bingung ternyata 13 week itu uda masuk tm 2 to, takpikir tm1?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, 13mgg udah masuk T2..eh eh aku ketinggalan berita nih sepertinya.
      Hmmm

      Delete
  4. Congratulations atas kehamilannya makk ^.^/ yippie~ btw puasa ga? Aku pas hamil ga puasa karena ga dibolehin sama dokter ku. Btw sehat terus ya bumil.. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...halo sai, lama tak bersua di kolom komen hehehe. Makasih doanya ya, dan Ramadan kali ini aku pun tidak berpuasa hihihi.

      Delete
  5. Sehat2 Mbak Nining dan babybear. Daku belum bertemu sama Mbak Nining sejak hamil huhuhuhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaaiya, lama kita tidak bersua hihihi.

      Delete
  6. Semoga sehat selalu ya mbak... amin.

    ReplyDelete
  7. Aku barusan nemu cerita blighted ovum nya mba sedih banget, dan akhirnya mba hamil lagi itu brp lama dr waktu blighted ovum... Karna lusa aku jg mau di kuret :( sedih banget

    ReplyDelete
  8. Mba berapa lama baru hamil setelah blighted ovum :( , karna akupun di diagnosis blighted ovum lg nunggu hari mau di kuret juga :"(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mbak Erinda, aku turut sedih mendengarnya. Sabar ya mbak, yakin lah ini semua rencana terindah dariNya.

      Aku kebetulan hampir 2tahun baru isi lagi, masing2 orang beda cerita sepertinya. Ada yang cepat, ada yg agak lama.

      Smoga segera diberi ganti olehNya ya mbak, aamiin.

      Delete
    2. Iya mba 5 hari yg lalu aku pendarahan dan keguguran spontan, begitu di usg dokter rahimnya udh bersih, alhamdulillah gk jadi di kuret karna aku takut banget, tetep berdoa dan berusaha lg deh setelah ini.. Alhamdulillah ya mba tetep bisa hamil, jd gk perlu khawatir semua sudah di atur Allah SWT.. Sehat terus y mba ❤️

      Delete
    3. Aamiin ya Rabb, makasih doa indahnya mbak.
      Semoga mbak Erinda lekas pulih, dan segera diberi ganti olehNya. aamiin :*

      Delete

Subscribe