Makan Malam Pertama

3:19 PM

So, honey, now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars ... ♫

Penggalan lirik manis Ed Sheeren sesaat menyeruak di kepalaku. Tepat setelah Gerry melempar pertanyaan spontan ke arahku "Can I take you somewhere?" ... [deg] somewhere? But where? benakku pun bertanya.

Terdiam sesaat, lamunan berikut soundtrack lagu Thinking Out Loud tadi buyar seketika. Tergantikan suasana kikuk ... teman kru lainnya yang secara kebetulan bertemu di depan lift, hanya menatapku heran penuh tanya. [Ini anak baru, kok bisa akrab sih dengan kapten pilot kondang ini?!] Pun jawaban singkat keluar begitu saja dari bibirku "Yes, where?" sedikit melongo.

***
Di penerbangan kali ini aku mendapat jatah layover lumayan lama, 40 jam. Itu artinya selama hampir dua hari, aku akan tinggal sementara di Amsterdam. Sore hari setelah sampai di Amsterdam Marriott Hotel, rehat sebentar. Awalnya, aku berencana kalaupun nanti lapar, makan di resto hotel saja. Atau cukup memanggil room service, entah kenapa layouver kali ini aku malas berkeliling kota.

Rencana tinggal rencana, ketika hendak turun ke bawah menuju resto. Di situ aku berjumpa lagi dengannya, Gerard Reeves. Apalagi pagi tadi ia menawari tumpangan menuju bandara. Kali ini ia menawaraiku untuk pergi ke suatu tempat. Again?

***
"Let's go out for some early dinner!" pertanyaanku di depan lift tadi, baru ia jawab barusan ketika aku dan dia berada di depan lobby hotel. Baiklah, aku pun bergegas mengikuti ke mana ia pergi ... terserah mau makan di mana, toh perutku juga sudah mulai lapar.

Sesampainya di pertigaan Overtoom, ia mengajakku menyeberang dan lanjut berjalan ke arah barat. Sepanjang jalan tsb memang terdapat beberapa toko dan resto. Suasana sore hari ini lumayan padat, beberapa sepeda berjejer rapi terparkir di tepi jalan. Kafe-kafe pinggir jalan pun dipenuhi para pengunjung.

Namun, pria yang sedang mengajakku makan malam ini agak sedikit beda. Mungkin ia ingin menyamai langit sore hari ini yang agak gelap, ia jarang berbicara, hanya sepatah dua kalimat saja yang keluar dari mulutnya. Itupun seputar pekerjaan kami di airlines. Orang yang aneh, tapi mempesonaku.

Hingga akhirnya tepat di depan Kartika Indonesian Restaurant, Gerry menghentikan langkah kakinya. Seraya mengangguk sambil menggelengkan kepala, tanda ia bertanya apakah aku menyetujui idenya? Hmmm ... sepertinya ia orang yang tidak terlalu banyak bicara, cukup dengan anggukkan kepala, itu artinya ia sedang berujar "Let's go!"

Baiklah, sembari Gerry membukakan pintu, aku bergegas masuk ke dalam resto.

"Hah?" dalam hati aku takjub sesaat, kok bisa pas sih? Hari ini aku memang sedang ingin makan makanan menu Indonesia, rindu sekali rasanya dengan kampung halaman.

kartika-indonesian-restaurant.
source: google street view

Makan malam pertama kami pun di mulai, di sini. Di kota tulip dengan suasana langit sore hari yang mendung. Selamat makan Amsterdam :)

You Might Also Like

0 comments

Subscribe